Selasa, 23 April 2013

ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA



MAKALAH
SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA SELAIN NW











DISUSUN OLEH: KELOMPOK 3
KELAS: IV A
BAIQ WIDIA NITA KASIH                              (15.1.11.1.015)
BAIQ FARIHA                                                   (15.1.11.1.035)
LAELATUL HASANAH                                    (15.1.11.1.196)
MIFTAHUDIN KHAIRI                                     (15.1.11.1.034)
ARIPIN                                                                (15.1.11.1.025)



JURUSUN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
ISTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MATARAM
2013
MUHAMMADIYAH
Nama        : Baiq Widia Nita Kasih
Nim           : 15.1.11.1.015           
A.    SEJARAH MUHAMADIYAH
Muhammadiyah ialah suatu organisasi yang berdasarkan agama Islam, sosial, dan kebangsaan; sebuah organisasi sosial Islam yang terpenting di Indonesia sebelum Perang Dunia II dan juga sampai sekarang ini.[1] Organisasi ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 bertepatan dengan tanggal 18 Zulhijjah 1330 H, oleh Kiyai Haji Ahmad Dahlan atas saran yang diajukan oleh murid-muridnya dan beberapa orang anggota Budi Utomo untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bersifat permanen.[2]
Organisasi ini mempunyai maksud “menyebarkan pengajaran kanjeng Nabi Muhammad Saw kepada penduduk bumi putera”, dan “memajukan hal agama islam kepada anggota-anggotanya”. Untuk mencapai tujuan tersebut, organisasi berupaya mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mengadakan rapat-rapat dan tabligh di mana dibicarakan masalah-masalah Islam, mendirikan wakaf dan masjid-masjid serta menerbitkan buku-buku, brosur-brosur, surat-surat kabar dan majalah-majalah.[3]
            Usaha lain untuk mencapai maksud dan tujuan itu ialah dengan:[4]
1.      Mengadakan dakwah Islam;
2.      Memajukan pendidikan dan pengajaran;
3.      Menghidup-suburkan masyarakat tolong menolong;
4.      Mendirikan dan memelihara tempat ibadah dan wakaf;
5.      Mendidik dan mengasuh anak-anak dan pemuda-pemuda supaya kelak menjadi orang Islam yang berarti;
6.      Berusaha ke arah perbaikan penghidupan dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam;
7.      Berusaha dengan segala kebijaksanaan, supaya ke hendak dan peraturan Islam berlaku dalam masyarakat. (Anggaran Dasar Muhammadiyah Desember 1950).
Dalam mengarahkan kegiatan-kegiatan organisasi ini dalam tahun-tahun pertama tidaklah mengadakan pembagian tugas yang jelas di antara anggota pengurus. Hal ini semata-mata disebabkan oleh ruang gerak yang masih sangat terbatas yaitu sampai sekurang-kurangnya tahun 1917 pada daerah Kauman, Yogyakarta, saja. Dahlan sendiri aktif bertablig, aktif pula mengajar di sekolah Muhammadiyah, aktif dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat untuk melakukan berbagai macam kegiatan seperti shalat, dan dalam memberikan bantuan kepada fakir miskin dengan mengumpulkan dana dan pakaian untuk mereka. Sifat sosial dan pendidikan dari Muhammadiyah memanglah telah diletakkan di dalam masa-masa awal tersebut.[5]
Daerah operasi Muhammadiyah mulai diluaskan setelah tahun 1917. Pada tahun itu Budi Utomo mengadakan kongresnya di Yogyakarta (malahan rumah KHA Dahlan dibuat sebagai pusat dari kongres tersebut) ketika mana KHA Dahlan telah dapat mempesona kongres itu melalui tablig yang dilakukannya sehingga pengurus Muhammadiyah menerima permintaan dari berbagai tempat di Jawa untuk mendirikan cabang-cabangnya. Untuk maksud ini anggaran dasar dari organisasi itu yang membatasi diri pada kegiatan-kegiatan di Yogyakarta saja, haruslah lebih dahulu diubah. Ini dilakukan pada tahun 1920 ketika mana bidang kegiatan Muhammadiyah diluaskan meliputi seluruh pulau Jawa dan pada tahun berikutnya (1921) seluruh Indonesia.[6]
Mudah dimengerti bahwa cabang utama yang pertama di luar Jawa didirikan di Minangkabau. Haji Rasul, yang sangat tertarik pada kegiatan Muhammadiyah itu pada kunjungannya ke Jawa pada tahun 1925 dan yang menyadari perlunya organisasi semacam itu untuk daerah asalnya, mengembangkan organisasi ini dengan mengubah sebuah organisasi lokal di tempat kelahirannya (Sendi Aman Tiang Selamat) menjadi cabang Muhammadiyah pada tahun yang sama. Dari sinilah Muhammadiyah itu menyebar ke seluruh daerah Minangkabau dengan bantuan dari bekas murid-muridnya.[7]
Dalam tahun 1927 Muhammadiyah mendirikan cabang-cabang di Bengkulu, Banjarmasin dan Amuntai, sedang pada tahun 1929 pengaruhnya tersebar ke Aceh dan Makassar. Muballig-muballig dikirim ke daerah-daerah tersebut dari Jawa atau Minangkabau untuk menyebarkan cita-cita Muhammadiyah. Dalam hubungan ini perlu dikemukakan bahwa cabang-cabang itu tidaklah hanya merupakan tempat berkumpul orang-orang yang mempunyai cita-cita yang sama. Memang hal ini terdapat juga, tetapi juga agar dapat diakui sebagai cabang gerakan Muhammadiyah. Untuk itu, haruslah diadakan kegiatan yang bersifat permanen, yaitu dengan mendirikan sekolah, kursus-kursus yang teratur ataupun memelihara anak yatim piatu.[8]
Kegiatan lain dalam bentuk kelembagaan yang berada di bawah organisasi Muhammadiyah ialah:[9]
1.      PKU (Penolong Kesengsaraan Umum) yang bergerak dalam usaha membantu orang-orang miskin, yatim piatu, korban bencana alam dan mendirikan klinik-klinik kesehatan;
2.      Aisyiah, organisasi wanita Muhammadiyah, menitikberatkan perhatiannya pada kedudukan wanita sebagai ibu dan pendidik yang mempunyai tanggungjawab besar untuk kemajuan masyarakat melalui asuhan dan didikan anak dan mengkoordinir kegiatan remaja putri dalam Nasyiatul Aisyiah;
3.      Hizbul Watan, berupa gerakan kepanduan Muhammadiyah yang dibentuk pada tahun 1918 oleh KHA Dahlan;
4.      Majlis Tarjih, yang didirikan atas dasar keputusan kongres Muhammadiyah di Pekalongan pada tahun 1927. Fungsi dari majelis ini adalah mengeluarkan fatwa atau memastikan hukum tentang masalah-masalah tertentu yang dipertikaikan oleh masyarakat muslim.
Dalam tahun 1925 organisasi ini telah mempunyai 29 cabang-cabang dengan 4.000 orang anggota, sedangkan kegiatan-kegiatannya dalam bidang pendidikan meliputi:
1.      Delapan Hollands Inlandse School, sebuah sekolah guru di Yogyakarta;
2.      32 buah sekolah dasar 5 tahun;
3.      Sebuah Schakelschool;
4.      14 madrasah, seluruhnya dengan 119 orang guru dan 4.000 murid.
Dalam bidang sosial, ia mencatat dua buah klinik di Yogyakarta dan Surabaya di mana 12.000 pasien memperoleh pengobatan; sebuah rumah miskin dan dua buah rumah yatim piatu.
Dalam tahun 1929 perserta-peserta dari kongres tahunannya berasal dari hampir semua pulau-pulau besar di Indonesia (kecuali Kalimantan). Kongres ini mencatat 19.000 anggota Muhammadiyah, sedangkan bagian publikasi dari Muhammadiyah telah menerbitkan sejumlah 700.000 buah buku dan brosur. Cabang organisasi ini di Solo telah membuka sebuah klinik mata dan di Malang sebuah klinik lain. Kongres tahun 1930 yang diadakan di Bukittinggi, tempat pertama kongres di luar Jawa, mencatat 112 cabang-cabang dengan 24.000 orang anggota. Keanggotaan ini bertambah menjadi 43.000 pada tahun 1935, tersebar pada 710 cabang-cabang termasuk 316 di Jawa, 286 di Sumatera, 79 di Sulawesi dan 29 di Kalimantan. Pada tahun 1938 terdapat 852 cabang-cabang serta 898 kelompok (yang belum berstatus cabang), seluruhnya dengan 250.000 anggota.
Nama        : Baiq Fariha
Nim           : 15.1.11.1.035
B.     USAHA MUHAMADIYAH DI BIDANG PENDIDIKAN
Ahmad Dahlan selaku pendiri organisasi Muhammadiyah ini berpandangan bahwa pendidikan harus membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan materiil. Oleh k`arena itu, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dimana siswa itu hidup. Dengan pendapatnya yang demikian itu, sesungguhnya Ahmad Dahlan mengkritik kaum tradisionalis yang menjalankan model pendidikan yang diwarisi secara turun temurun tanpa mencoba melihat relevansinya dengan perkembangan zaman. Berkaitan dengan masalah ini, Ahmad Dahlan mengutip ayat 13 surat Al-Ra’du yang artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.[10]
1.      Dasar dan fungsi lembaga pendidikan
Yang menjadi dasar pendidikan Muhammadiyah adalah:
a.       Tajdid; kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran baru untuk mengubah cara berfikir dan cara berbuat yang sudah terbiasa demi mencapai tujuan pendidikan.
b.      Kemasyarakatan; antara individu dan masyarakat supaya diciptakan suasana saling membutuhkan. Yang dituju adalah keselamatan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.
c.       Aktivitas; anak harus mengamalkan semua yang diketahuinya dan menjadikan pula aktivitas sendiri sebagai salah satu cara memperoleh pengetahuan yang baru.
d.      Kreativitas; anak harus mempunyai kecakapan atau keterampilan dalam menentukan sikap yang sesuai dan menetapkan alat-alat yang tepat dalam menghadapi situasi-situasi baru.
e.       Optimisme; anak harus yakin bahwa dengan keridhaan Tuhan, pendidikan akan membawanya kepada hasil yang dicita-citakan, asal dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang menyimpang dari segala yang digariskan oleh agama Islam.
Adapun lembaga pendidikannya berfungsi sebagai berikut:
a.       Alat dakwah ke dalam dan ke luar anggota-anggota Muhammadiyah. Dengan kata lain untuk seluruh anggota msayarakat.
b.      Tempat pembibitan kader, yang dilaksanakan secara sistematis dan selektif, sesuai dengan kebutuhan Muhammadiyah khususnya dan masyarakat Islam pada umumnya.
Gerak amal anggota, penyelenggaraan pendidikan diatur secara berkewajiban terhadap penyelenggaraan dan peningkatan pendidikan itu, dan akan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Muhammadiyah.[11]
2.      Penyelenggaraan Pendidikan
Pendirian organisasi Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330 H. turut mempercepat pendirian sekolah-sekolah baru  dengan model yang baru ini. Pada saat yang sama dalam masyarakat sudah mulai tumbuh  kesadaran dan kebutuhan akan ilmu pengetahuan umum, sehingga kemudian Muhammadiyah mendirikan sekolah di Karangkajen (1913) Lempuyangan (1915) dan Pasargede (1916). Meningkatnya jumlah siswa yang belajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah menuntut adanya sekolah guru. Pada tahun 1918, Muhammadiyah membantu sebuah madrasah yang disebut Qism al-Arqa di rumah Ahmad Dahlan. Sekolah yang menerima lulusan volk school atau mereka yang memiliki latar belakang pendidikan yang setara ini mengajarkan pendidikan agama dan bahasa Arab. Lulusan dari sekolah ini diharapkan mampu mengajarkan agama di sekolah-sekolah pemerintah atau di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Pada tahun 1920, di sekolah-sekolah Muhammadiyah terdapat 787 siswa dan 32 guru.[12]
Perkembangan sekolah Muhammadiyah mengalami “booming” setelah tahun 1921. Pada tahun itu pemerintah mengeluarkan peraturan yang memperbolehkan pendirian cabang-cabang Muhammadiyah melakukan restrukturisasi organisasi, di mana urusan-urusan sekolah yang sebelumnya ditangani oleh bagian sekolah. Sebagai dampak positif dari adanya lembaga ini, sekolah-sekolah baru terus dibangun. Pada tahun 1922 Muhammadiyah membangun HIS Met de Qur’an, yang tingkatnya setara dengan HIS pemerintah, tetapi mengajarkan pendidikan agama.[13]
Dalam tahun 1927 Muhammadiyah mendirikan cabang-cabang di Bengkulu, Banjarmasin dan Amuntai, sedang pada tahun 1929 pengaruhnya tersebar ke Aceh dan Makasar. Muballigh-muballigh dikirim ke daerah-daerah tersebut dari Jawa atau dari Minangkabau untuk menyebarkan cita-cita Muhammadiyah. Dalam hubungan ini perlu dikemukakan bahwa cabang-cabang itu tidak hanya merupakan tempat berkumpul orang-orang yang mempunyai cita-cita yang sama, tetapi juga agar dapat diakui sebagai cabang gerakan Muhammadiyah. Untuk itu, haruslah diadakan kegiatan yang bersifat permanen, yaitu dengan mendirikan sekolah, kursus-kursus yang teratur ataupun memelihara anak yatim piatu.[14]
Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan tingkat pendidikan, serta tidak memisah-misahkan antara pelajaran agama dan pelajaran umum. Dengan demikian, diharapkan bangsa Indonesia dapat dididik menjadi bangsa yang utuh berkepribadian, yaitu pribadi yang berilmu pengetahuan umum yang luas dan agama yang mendalam.[15]
Pada zaman pemerintah kolonial Belanda, sekolah-sekolah yang dilaksanakan Muhammadiyah adalah:
a.       Sekolah Umum: taman kanak-kanak (Bustanul Atfal), Veroolg school 2 tahun, schakel school 4 tahun, HIS 7 tahun, Mulo 3 tahun, AMS 3 tahun, dan HIK 3 tahun. Pada sekolah-sekolah tersebut diajarkan pendidikan agama Islam sebanyak 4 jam pelajaran seminggu.
b.      Sekolah Agama: madrasah ibtidaiyah 3 tahun, tsanawiyah 3 tahun, mualimin/mualimat 5 tahun, kulliatul muballigin (SPG Islam) 5 tahun.
Pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah mempunyai andil yang sangat besar bagi bangsa dan Negara, dan tentu saja menghasilkan keuntungan-keuntungan diantaranya:
a.       Menambah kesadaran nasional bangsa Indonesia melalui ajaran Islam.
b.      Melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah, ide-ide reformasi islam secara luas disebarkan.
c.       Mempromosikan kegunaan ilmu pengetahuan modern (Hamzah, 1965: 74).
Selanjutnya, pada zaman kemerdekaan, sekolah Muhammadiyah mengalami perkembangan yang pesat. Pada dasarnya, ada empat jenis lembaga pendidikan yang dikembangkan, yaitu:
1.    Sekolah-sekolah umum yang benaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu: SD, SMTP, SMTA, SPG, SMEA, SMKK dan sebagainya. Pada sekolah-sekolah ini diberikan pelajaran agama sebanyak 6 jam seminggu.
2.    Madrasah-madrasah yang bernaung di bawah Departemen Agama, yaitu: Madrasah Ibtidaiyah (MI), Mts, dan Madrasah Aliyah (MA). Madrasah-madrasah ini ada setelah adanya SKB 3 Menteri tahun 1976 dan SKB 2 Menteri tahun 1984, mutu pengetahuan umumnya sederajat dengan pengetahuan dari sekolah umum yang sederajat.
3.    Jenis madrasah atau madrasah khusus Muhammadiyah, yaitu: Mualimin, Mualimat, Sekolah Tabhligh dan pondok pesantren Muhammadiyah.
4.    Perguruan Tinggi Muhammadiyah; untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah umum dibawah pembinaan Kopertis (Depdikbud), dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Agama di bawah pembinaan Kopertais (Departemen Agama).[16]
3.      Strategi Pengembangan Pendidikan
Sistem pendidikan yang dikembangkan adalah sintesis antara sistem pendidikan Islam tradisional yang berbasis di pesantren dan sistem pendidikan modern. Tujuan akhir yang hendak dicapai ialah menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan umum yang memadai atau istilah yang tren sekarang “ulama intelek”.
Sikap Muhammadiyah yang mengambil jalan tengah dalam sistem pendidikannya, membawa pengaruh atau efek cukup luas pada perkembangan kehidupan keagamaan di Indonesia, yakni menepis budaya “paternalistic Kiai-Santri”, melahirkan paham persamaan manusia atau egaliter, serta membawa nuansa baru perkembangan pemikiran Islam di Indonesia (kontowijoyo, 1991: 96).[17]
4.      Pesantren Muhammadiyah
Pertama kali K.H. Ahmad Dahlan mencoba mendirikan pesantren yang dinamakan dengan “Pondok Muhammadiyah” pada tahun 1912. Karel A. Steenbrink dalam bukunya Pesantren, Madrasah, dan Sekolah, mencatat bahwa pada tahun 1968, pimpinan Muhammadiyah di Yogyakarta mencoba membuat pola pendidikan yang dinamakan dengan “Pendidikan Ulama Tarjih”. Usaha itu dimulai dengan membentuk suatu kelompok dengan anggota paling banyak 25 orang. Kelompok ini selama tiga tahun secara tetap belajar pada seorang guru (kiai) seperti dipesantren. Waktu belajar dilaksanakan di sekitar waktu shalat. Pelajaran diberikan setiap hari, kecuali hari jumat. Tidak mengenal hari libur dan tidak diberikan ijazah yang diakui pemerintah. Selama jam belajar, para santri tidak duduk di atas bangku melainkan bersila di atas lantai. Pada tahun kedua, diberikan pelajaran tambahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan ilmu pendidikan (Karel : 1986).
Organisasi Muhammadiyah tersebar ke seluruh pelosok tanah air, secara vertical dan diorganisasikan dari tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting. Untuk menangani kegiatan yang beragam tersebut dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang bertugas membentuk Pimpinan Perserikatan menurut bidangnya masing-masing.
Kesatuan-kesatuan kerja ini membentuk majelis-majelis, antara lain: Majlis Tarjih, Majlis Tabligh, Majlis Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, Majlis Pembinaan Kesejahteraan Umat (PKU), Majelis Pustaka dan Majelis Bimbingan Pemuda. Ada pula organisasi-organisasi ototnom di bawah naungan Muhammadiyah seperti Aisyiyah (bagian wanitanya), Nasyiatul Asyiyiah (bagian-bagian putrid-putrinya), Pemuda Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).[18]
NAHDLATUL ULAMA (NU)
Nama        : Laelatul Hasanah
Nim           : 15.1.11.1.196
A.    SEJARAH BERDIRINYA NAHDLATUL ULAMA’ (NU)
Nahdlatul Ulama (NU) didirikan di Surabaya pada tanggal 31 januari 1926 M bertepatan dengan tanggal 16 Rajab 1444 H oleh kalangan ulama penganut madzhab yang sering menamai dirinya sebagai golongan Ahlussunnah Waljama’ah yang di pelopori oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Abdul wahhab Hasbullah.[19] Jauh sebellum NU lahir sebagai jam’iyyah (organisasi), ia terlebih dahulu ada dan berwujud jama’ah  (comunity) yang terikat kuat oleh aktifitas sosial keagamaan yang mempunyai karakter tersendiri. Ketika di adakan pertemuan ulama yang bermaksud membahas dan menunjuk delegasi komite hijaz,utusan yang hendak di kirim untuk menyampaikan pesan kepada raja Abdul Aziz Ibnu Saud, penguasa baru hijaz (Arab Saudi), ketika itu, juga secara sepontan menjawab pertanyaan yang timbul kemudian yakni siapa yang berhak mengirim delegasi itu? atau dalam istilah lain, organisasi apa dan apa pula namanya yang akan bertindak memberikan mandat kepada deligasi hijaz tersebut.  Dan jawaban yang segera muncul pada waktu itu adalah kesepakatan membentuk subuah jam’iyah , wadah baru bagi persatuan dan perjuangan parra ulama’. Namun demikian, bukan berarti semua pertanyaan sudah terjawab sebab jam’iyah yang baru di sepakati berdirinya belum di beri nama. Maka terjadilah perdebatan seputar nama yang cocok buat jam’iyah yang baru saja di bentuk.
Dalam forum tersebut, terdapat dua pendapat atau usulan yang sebenarnya sama tetapi implikasinya nya berbeda. KH. Abdul Hamid dari Sidayu Gersik mengusulkan nama NU (kebangkitan ulama’) yang di sertai penjelasan, bahwa para ulama’ mulai bersiap-siap akan bangkit melalui perwadahan formal tersebut. Namun p[endapat itu mendapat sanggahan keras dari KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz. Menurut Mas Alwi, kebangkitan ulama bukan lagi mulai atau akan bangkit. Melainkan, kebangkitan itu sudah berlansung sejak lama dan bahkan sudah bergerak jauh sebelum adanya tanda-tanda akan terbentuknya komite Hijas itu sendiri. Hanya saja kata Mas Alwi, kebangkitan atau pergerakan ulama’ kalau itu memang belum terorganisasi secara rapi. Akhirnya usul Mas Alwi di terima secara aklamasi, perdebatan berakhir dengan lahirnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ yang pengertiannya lebih condong pada gerakan serentak para ulama’ dalam suatu pengarahan atau gerakan bersama-sama yang terorganisir.[20]
Setelah peresmian wadah baru itu maka tahap berikunya ialah pembentukan pengurus, dan setelah kepengurusan lengkap terbentuk giliran selanjutnya masalah lambang (simbol). Masalah simbol ini di percayakan kapada KH. Ridwan Abdullah. Lambang NU bergambar ‘bola dunia’ di lingkari seutas tampar dan sembilan bintang, di ciptakan oleh kiai Ridwan Abdullah berdasarkan mimpi setelah solat istikharoh sedang tulisan arab adalah tambahan dari Kiai ridwan sendiri dan tidak termasuk mimpi.[21]
Dari muktamar yang petama sampai kedelapan (1926-1933) yang pada dasarnya merupakan masa perintisan. Titik berat kegiatannya terarah pada usaha pemantapan dan memperkenalkan NU keluar daerah. Ini tercermin dalam komisi propaganda yang dibentuk dengan misi khusus, menarik simpati masyarakat luas terhadap NU. Dan  tugas komisi mulai terlihat hasilnya ketika NU berhasil mengadakan muktamar disemarang, kemudian muktamar dipekalongan, terus muktamar di Cirebon, Bandung dan Jakarta. Semua itu merupakan bukti kemampuan ‘LajnatunNashihin’ yang dipimpin lansung KH. Hasyim Asy’ari, untuk mengakhiri masa perintisan menuju masa pengembangan  NU.
Bukan berarti masa perintisan itu dihabiskan hanya untuk mengadakan propaganda atau perhubungan diantara para ulama saja,  melainkan didalam masa perintisan tersebut,  selain mengadakan perhubungan  (komunikasi intensif)  diantara para ulama bermadzhab untuk mendirikan cabang-cabang NU, generasi pendiri organisasi ini juga berusaha memperhatikan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, pendidikan dan juga dakwah. [22]
B.     MASA PERKEMBANGAN
Masa perkembangan NU dimulai sejak muktamar kesembilan di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 21-26 April 1934. Ada beberapa sebab yang bisa dijadikan alasan memilih muktamar di Banyuwangi sebagai titik awal sejarah perkembangan NU.
1.      Karena muktamar di Banyuwangi inilah mulai diberlakukan mekanisme kerja baru:  pemisahan sidang antara syuriyah dan tanfidziyah didalam muktamar.
2.      Semenjak  muktamar  dibanyuwangi  tatacara  persidangan  mulai  diperbaharui. Apabila pada beberapa kali muktamar sebelumnya, sidang-sidang majelis cukup dilakukan dengan  duduk melantai diatas tikar atau permadani sambil membawa tumpukan kitab-kitab madzhab. Bentuk persidangan sudah diatur rapi dan agak formal,peserta sidang dipersilahkan  duduk dikursi menghadap pimpinan  sidang.
3.      Dalam muktamar kesembilan ini mulai tampak peran tokoh-tokh muda NU berpandangan luas.
Dalam masa perkembangan ini, NU mulai bersungguh-sungguh memperhatikan masalah kepemudaan. Berbagai organisasi pemuda yang pada dasarnya  seaspirasi dengan NU, dikumpulkan dalam satu wadah sebagai benteng pertahanan sehingga dalam  muktamar yang kesembilan tersebut lahir sebuah keputusan: membentuk wadah pemuda yang diberi nama Anshor Nahdlathoel Oelama (ANO). Dan organisasi pemuda ini kemudian menjadi  lebih penting artinya bagi menopang induk organisasi setelah peraturan dasar dan peraturan rumah tangga (PD/PRT) disahkan dalam muktamar NU berikutnya, di Solo, Jawa Tengah.
Selain membentuk ANO, muktamar Banyuwangi juga memutuskan beberapa masalah keagamaan (masalah diniyah) antara lain: masalah perselisihan paham tentang sembayang jum’at, masalah perlunya memudahkan perkawinan buat orang kristen yang masuk islam dan hukumn berat bagi orang yang menghina  al-Qur’an.
Untuk menghindari terjadinya pertengkaran diantara kelompok sendiri, dan lebih mengutamakan perhatiannya terhadap keselamatan agama, telah dibuktikan dalam  muktamar NU kesepuluh pada 13-18 April  1935, di Solo, Jawa Tengah.
Dan pada muktamar kesebelas (8-12 juli 1936) sebauh organisasi lokal kalimantan, Hidayatul Islamiyah, menyatakan bergabung kedalam NU. Sedangkan pada muktamar kedua belas, 20-24 juni  1937 di Malang, jumlah cabang NU melonjak menjadi 84 dan tiga cabang baru di Sumbawa dan Palembang. Kemudian pada saat belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942, jumlah cabang NU naik menjadi 120 cabang tersebar diseluruh Indonesia.[23]
C.    MOTIVASI BERDIRINYA NU
1.      Motif Agama
Penyebaran islam diindonesia (khususnya di Jawa) oleh para muballig islam, terutama wali sanga berhasil gemilang. Penyebaran islam pada abad ke-7 dan terutama setelah abad ke-11 dan 12 dapat dikatakan total menggantikan hinduisme dan budhisme yang sebelumnya sangat berjaya. Pengaruh islam masuk hingga dalam ke sendi-sendi dan kepemimpinan rakyat. Runtuhnya majapahit dan berdirinya kerajaan Islam demak (pada sekitar 1478 M), adalah bukti kepercayaan masyarkat jawa dalam waktu relatif singkat mewarnai kehidupan masyarkat disegala tingkat dihampir seluruh negri.
Namun, keberhasilan itu menjadi berantakan akibat ulah penjajah. Pada 1592 M, buat pertama kali bangsa belanda mendarat dibanten. Kemudian menguasai indonesia selama 350 abad, tidak hanya bermaksud mengeruk kekayaan bumi, tetapi juga menitipkan misi kristen untuk ditanamkan kepada bangsa indonesia yang umumnya beragama islam.[24]
Setelah diketahui maksud sebenarnya, para pemuka-pemuka agama bangkit dimana-mana. Diawal XX para pemuka islam mulai menghimpun kekuatan melalui dunia pesantren atau mendirikan organisasi-organisasi sosial keagamaan yang pada saatnya nanti menjadi palu godam ampuh buat memukul penjajah.[25]
2.      Membangun Nasionalisme
Selain motif agama, NU lahir karena untuk merdeka. Sekitar tahun 1914 KH. Abdul Wahab Hazbullah mendirikan sebuah gedung bertingkat sebagai perguruan NW yang salah satu usaha untuk membangun semangat Nasionalisme lewat jalur pendidikan. Ini terlihat dari nama madrasah yang terpilih NW yang berarti pergerakan tanah air.[26]
SEJARAH MASUKNYA NU DI LOMBOK
Nama        : Miftahuddin Khairi
Nim           : 15.1.11.1.034
A.    LATAR BELAKANG MASUKNYA NU DI LOMBOK
Masyarakat Lombok sebagian besar baragama islam sehingga kehidupan keagamaan di warnai oleh suasana keislaman. Dalam masyarakat Islam sasak penganut islam dapat di bedakan menjadi dua golongan, yaitu islam waktu telu dan islam waktu lima. Kedua golonagan ini mempunyai alasan yang mendasar. Menurut laporan C.J.Van Eared, seorang kontrolir urusan agrarian pada tahun 1900, menyatakan bahwa orang Islam sasak tidak jauh berbeda dengan orang sasak yang beragama Budha. Mereka memiliki bahasa yang sama, adat yang sama, pemikiran yang sama juga mengenai dewa-dewa berhala dan tempat-tempat penyajian sesajen. Perbedaannya, orang-orang Budha memelihara babi sedangkan orang Islam tidak. Akan tetapi, perbedaan lainnya adalah orang Budha tidak di khitan sedangkan orang islam di khitan.[27]
Penganut islam ini selain mempunyai dewa-dewa dan tempat pengaturan sesajian, mereka juga mempunyai sebuah masjid, kiyai, penghulu dan pemangku yang bertugas mengurus kepentingan mereka yang lebih tinggi, dan menyerahkan urusan keagamaan kepada kiyai tersebut. Penganut islam ini hanya melaksanakan tiga rukun islam, yaitu syhadat, shalat dan puasa. Mereka tidak pernah menjalankan tugas dam kewajiban sebagai muslim dan mereka ini di kenal seabagi islam waktu telu.[28]
Sedangkan golongan islam waktu lima ini terus berusaha mengerjakan ajaran agama islam, yaitu mealui pengajian-pengajian yang mereka selenggarakan dalam bentuk pesantren, hal ini kemudian telah dapat memperluas dan mempercepat jaringan pengaruhnya sampai jauh keluar desanya. Melalui pesantren itulah kemudian dapat diletakkan dasar bagi pengembangan agama islam yang berdasarkan pada al Quran, Hadist dan Ijmak Ulama. Berdirinya pesantren itu kemudian melahirkan tokoh milik pesantern sebagai orang kuat karena pengaruh dan karenanya di kalangan kaum santri dan masyarakat sekitarnya. Dari sinilah kemudian lahir predikat tuan guru yang artinya guru yang dimuliakan dalam masyarakat Lombok.  dalam hal ini ukuran seseorang dapat di panggil tuan guru adalah banyak memiliki pengikut atau memiliki pesantren, menguasai kitab kuning, dan pernah belajar di mekah selama beberapa tahun. Apabila seseorang telah tergolong alim dan menguasai kitab kunig tetapi belum pernah belajar di mekah, ia tidak di panggil tuan guru melainkan di panggil ustaz, yakni jabatan keamanan setingkat di bawah tuan guru. Jabatan lainyan adalah haji, yaitu gelar yang di berikan kepada orang islam yang telah menunaikan rukun islam yang ke lima (naik haji). Keberadaan tuan guru sebagai pimpinan yang mempunyai keahlian yang di akui oleh warga masyarakat menempatkannya pada setatus soisial yang paling tinggi. Masyarakat beranggapan bahwa tuan guru adalah seoseorang yang memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang dianggap keramat oleh masyarakat.[29]
Para tuan guru melalui pesantren berusaha untuk mengembalikan ajaran islam yang benar, seperti di antaranya pesantren pesantren di Kediri yang didirikan pada tahun 1919 oleh diantranya  tuan guru TGH. Mukhtar Abdul Malik dan TGH Mustafa. Para tuan guru tersebut mengajarkan kepada penganut islam telu  untuk mengerjakn shalat sesuai dengan ajaran islam yang bersumber dari al Quran dan Hadits. Para tuan guru menganjurka kepada penganut islam telu untuk menunaikan ibadah haji. Bagi masyrakat islam sasak menunaikan ibadah haji mempunyai tujuan ganda, selain dapat menunaikan rukun islam yang kelima juga dapat meningkatkan status sosial yang tinggi dalam kehidupan masyarakat. Karna ajaran yang di bawa oleh islam waktu lima  berbeda dengan islam waktu telu, islam lima mengerjakan syariat dengan berdasarkan kepada Al-Quran dan Al-Hadist dan ijma sehingga golongan islam waktu lima di katakana sebagai ahli sunnah waljamaah (aswaja).[30]
B.     PEROSES MASUKNYA NU DI LOMBOK
Sebelum terbentuknya NU di pulau Lombok beberapa ulama dan tokoh masyarakat yang umumnya berasal dari keturunan Arab, Banjarmasin, Palembang, India dan lainnya yang berdomisili di kota Ampenan membentuk sebuah perkumpulan atau pergerakan yang di sebut Persatuan Islam Lombok (PIL) yakni tepatnya pada tahun 1934. Organisasi ini berasaskan Islam ahlussunnah waljamaah (aswaja) dan bertujuan membangun kesadaran umat Islam dan meningkatkan semangat perjungan menegakkan tanah air. Tokoh-tokoh ini antara lain Tuan Guru Haji (TGH) Mustafa Bakri, Sayyid Ahmad Al-kaff dan lainnya.
Para pendiri organisasi ini selain memberikan dakwah, juga melakukan komunikasi dengan masyarakat luas melalui kontak dagang, karena sebagian mereka bekerja sebagai pedagang sukses yang berada di kota Ampenan. Dalam perkembangan selanjutnya dan setelah bolak-balik melakukan kontak dagang dengan pulau jawa tersentuhlah pemikiran untuk mengembangkan   oranisasi ini dengan memasuki organisasi tingkat nasional yang memiliki haluan yang sama dengan asas organisasi PIL, yang sealama ini di gelutinya. Pada akhir tahun 1934 para pemimpin organisasi PIL sepakat untuk memiliki NU sebagai wadah perjuangan, dimana selanjutnya di peroses melalui hubungan langsung dengan HBNO di Surabaya yang dalam hal ini menjumpai KH. M Dahlan selaku konsul NU untuk Indonesia bagian timur.
Pada tahap awal, tepatnya pada tahun 1935 direstuilah pembentukan cabang NU di kota Ampenan dengan kepengurusan hampir seluruh pengurus dari organisasi PIL yang sudah ada selama ini. Beberapa orang di ketahui sebagai pengurus inti adalah TGH Mustafa Bakri, Sayyid Ahmad al-Adroes, duduk dalam jajaran syuriah, sedangkan H. Sayuti (kakak kandung TGH Mustafa Bakri) yang di percayakan sebagai ketua tanfiziah. Kepengurusan cabang Ampenan ini terus berjalan mengikuti perkembangan organisasi, baik melalui komunikasi surat menyurat di ahman TGH Mustafa Bakri dalam posisinya dalam syuriah tampil sebagai salah satu anggota tim perumus dalam komisi yang di bentuk oleh Muktamar. [31]
Sedangkan di dalam buku karangan Ide Bagus Putu Wijaya tentang sejarah masuknya NU di Lombok mengatakan Nahdhotul Ulama sebagai organisasi keagamaan dan pendidikan di daerah Lombok sejak awal berdiri sampai sekarang terlihat dalam berbagai kegiatan. Kegiatan yang telah di lakukan di antara lain didalam bidang politik, dakwah, pendidikan dan sosial. NU mulai berdiri secara resmi di daerah Lombok pada tahun 1953. Pada saat itu menjadi kedudukan sebagai cabang NU di Masbagik, Lombok Timur. Organisasi ini berdiri atas prakarsa Badarudin alias H. Achiyd Muzhar yang merupakan seorang tokoh masyrakat dari Bilasundang, Masbagik, Lombok Timur.[32]
C.    AKTIVITAS NU LOMBOK
1.      Bidang Dakwah
Pada dasarnya dakwah merupkan salah satu usaha mengubah seseorang, sekelompok orang atau kelompok  masyarkat kearah yang lebih baik, sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasulnya. Dalam hal ini penyiaran Islam di daerah Lombok sejak berdiri Nahdhotul Ulama (NU) secara resmi menjadi cabang NU sedaerah Lombok sejak tahun 1953 masih di lakukan secara tradisional. Yaitu dengan mengadakan pengajian-pengajian, baik yang di lakukan setiap hari, mingguan, tengah bulanan, maupun bulanan. Dakwah ini bisa diadakan di rumah-rumah, masjid, pesantren ataupun di madrasah dakwah ini di berikan oleh tuan guru atau juru dakwah (dai) yang merupakan tokoh agama, yang terdiri dari para ulama atau tuan guru, yaitu TGH Shaleh Hambali yang berasal dari Bengkel, Labuapi Mataram; TGH Faisal yang berasal dari Praya; dan TGH Zainudin Arsyad yang berasal dari Mamben, Aikmel, Selong. Mereka ini mengembangkan ajaran islam faham ahlissunnah waljmaah.[33]
2.      Bidang Pendidikan
Sejak berdirnya NU di daerah Lombok pada tahun 1953, NU di samping mengelola pendidikan pesantren yang menjadi basis utama kekuatan utamanya. Juga sistem pendidkan yang telah dikembnagkan dengan memakai ssitem klasik, yang di kenal dengan nama madrasah NU selain mengembangkan sekolah agama juga mengembangkan sekolah umum. Mengingat kehadiran sekolah umum memiliki peranan yang sangat penting. Sekolah umum yang pertama kali didirikan oelh NU adalah SMP Al Ma’arif Mataram yang didirikan pada tanggal 1 januari 1968 oleh H. Said, BA.  Sebagai kepala sekolahnya.[34]
3.      Bidang Sosial
Selain bergerak di bidang pendidikan dan dakwah seperti tersebut di atas, NU juga bergerak dalam bidang sosial. Bidang sosial yang di maksud di sini adalah upaya mewujudkan kemaslahatan ummat yang di dalamnya mencakup usaha-usaha untuk memperoleh kesejahteraan lahir dan batin. Oleh karna itu, bidang sosial memantapkan usahanya keadilan sosial yang merata, kesejatraan umat dengan asas prikemanusiaan, dan peningkatan sendi-sendi akhlak umat dan masyarakat.[35]
Kegiatan sosial yang di lakukan NU antara lain; kegiatan sosial untuk mewujudkan keadilan yang merata, di antaranya dengan cara memantapkan dan menyempurnakan pelaksanaan zakat yang merupakan rukun islam yang ketiga. Pelaksanaan zakat ini di harapkan memupuk perstauan dan memperkecil jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Kegiatan sosial lainya adalah upaya mensejahterakan umat dengan asas prikemanusiaan, di antara lainnya dilakukan dengan cara menitip anak yatim piatu dan anak anak terlantar dengan cara menitipkannya di Panti Asuahan. Panti Asuhan tersebut adalah milik TGH Shaleh Hambali yang berlokasi di Bengkel Labuapi Mataram.[36]
Nama  : Aripin
Nim     : 15.1.11.1.025
PERSATUAN ISLAM (PERSIS)
A.    SEJARAH BERDIRINYA PERSATUAN ISLAM (PERSIS)
Persatuan Islam didirikan di Bandung pada tanggal 12 September 1923 di Bandung oleh sekelompok orang Islam yang berminat dalam studi dan aktivitas keagamaan, yang dipimpin oleh Zamzam dan Muhammad Yunus. Zamzam menghabiskan waktunya selama tiga setengah tahun masa mudanya di Mekah untuk belajar di Darul Ulum. Sekembali dari Mekah ia menjadi guru di Darul Mu’allimin, sebuah sekolah agama di Bandung sekitar tahun 1910, dan mempunyai hubungan dengan Syekh Ahmad Syurkati dari al-Irsyad di Jakarta, tetapi ia hanya dua tahun disekolah itu. Adapun Muhammad Yunus yang memperoleh pendidikan agama secara tradisional dan menguasai bahasa Arab, tidak pernah mengajar. Ia hanya berdagang, tetapi tidak pernah pula minatnya hilang dalam mempelajari agama, kekayaannya menyanggupkan ia untuk membeli kitab-kitab yang diperlukan, juga untuk anggota-anggota Persatuan Islam setelah organisasi ini didirikan.[37]
Bandung kelihatan agak lambat memulai pembaharuan dibandingkan dengan daerah-daerah lain, sungguhpun Sarekat Islam telah beroperasi dikota ini sejak tahun 1913. Kesadaran tentang keterlambatan ini merupakan sebuah cambuk untuk mendirikan sebuah organisasi.[38]Persatuan Islam mempunyai cirri tersendiri, dimana kegiatannya dititikberatkan pada pembentukan faham keislaman. Untuk mencapai hal itu maka Persatuan Islam mengadakan pertemuan umum, tabligh, khutbah-khutbah, keleompok-kelompok studi,mendirikan sekolah-sekolah, dan menyebarkan atau menerbitkan pamphlet, majalah, dan kitab-kitab.
Penerbitan itulah yang terutama dapat menyebarluaskan pemikirannya. Dalam kegiatannya, Persatuan Indonesia  beruntung memperoleh dukungan dan partisipasi dari dua tokoh penting, yaitu Ahmad Hasan yang dianggap sebagai guru Persatuan Islam yang utama sebelum perang, dan Mohammad Natsir seorang pemuda yang sedang berkembang dan bertindak sebagai juru bicara dari organisasi tersebut dalam kalangan terpelajar.
Sebagaimana halnya dengan organisasi Islam lainnya, Persis memberikan perhatian yang besar pada kegiatan-kegiatan pendidikan,tabligh serta publikasi. Dalam bidang pendidikan persis mendirikan sebuah madrasah yang mulanya di maksudkan untuk anak-anak dari anggota Persis. Tetapi kemudian madrasah ini diluaskan untuk dapat menerima anak-anak lain. Kursus-kursus dalam masalah agama untuk orang-orang dewasa mulanya juga dibatasi pada anggota-anggotanya saja. Hasan dan Zamzam mengajar pada kursus-kursus ini yang terutama membahas soal-soal iman serta ibadah dengan menolak segala kebiasaan bid’ah.[39] Masalah-masalah yang sangat menarik masyarakat pada waktu itu seperti poligami dan nasionalisme juga dibicarakan. 
Sekitar tahun 1927 sebuah kelas khusus atau lebih tepat kelompok diskusi diorganisir  untuk anak-anak muda yang telah menempuh sekolah menengah pemerintah dan memiliki minat untuk mendalami agama Islam dengan maksimal. Jadi Kursus-kursus keagamaan tersebut tidak dikhususkan bagi para anggota Persatuan Islam, tetapi juga untuk semua masyarakat yang ingin mendalami agama Islam. Didalam Kursus-kursus tersebut terdapat guru-guru yang professional. Diantaranya adalah Hassan. Didalam mengajar, Hassan memperoleh banyak manfaat terutama dalam hal pendalaman pengetahuan agama Islam dan penggalian terhadap sumber-sumber ajaran Islam.
Sebuah kegiatan lain yang penting dalam rangka kegiatan pendidikan Persis ini adalah lembaga pendidikan Islam sebuah proyek yang dilancarkan oleh  Nasir, dan terdiri dari beberapa sekolah yaitu: taman kanak-kanak, HIS (keduanya tahun 1930), sekolah Mulo (1931) dan sebuah sekolah guru (1932).[40] HIS merupakan lembaga untuk memperoleh pendidikan barat khususnya memperlajari bahasa Belanda sebagai kunci untuk pendidikan lanjutan, pintu kebudayaan barat, dan syarat untuk memperoleh pekerjaan. Bahasa Belanda memberikan prestise dan memasukkan seseorang kedalam golongan intelektual dan elit. Kursus Mulo dimaksud sebagai sekolah rendah dengan program yang diperluas dan bukan sebagai sekolah menengah. Sebagai guru diangkat mereka yang memiliki ijazah HA (Hoofdacte, kepala sekolah) atau diploma untuk pelajaran tertentu.
Keinginan Nasir untuk mendirikan berbagai sekolah ini  dipicu oleh berbagai macam tuntutan dari berbagai pihak. Selain itu timbulnya keinginan Nasir untuk mendirikan berbagai lembaga pendidikan adalah karena ia melihat ada beberapa sekolah di Bandung yang tidak memberikan pelajaran agama pada siswanya. Adapun murid-murid yang masuk kedalam lembaga pendidikan yang didirikan oleh organisasi Persis ini pada umumnya adalah anak-anak disekitarnya, tetapi beberapa diantara mereka ada yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan dari Sumatra. Bagi para siswa yang telah lulus studinya mereka diperbolehkan untuk kembali ke tempat asal mereka masing-masing untuk membuka sekolah baru atau bergabung dengan sekolah yang ada di daerahnya.
Disamping pendidikan Islam, Persis mendirikan sebuah pesantren (disebut pesantren Persis) di Bandung pada bulan Maret 1936. Pesantren itu dipimpin oleh A. Hasan sebagai kepala dan M. Natsir sebagai penasehat dan guru. Tujuan mendirikan pesantren itu adalah untuk mengeluarkan muballigh-muballigh yang sanggup menyiarkan, mengajar, membela dan mempertahankan agama islam. Materi pelajarannya adalah ilmu agama dan ilmu umum.[41]
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk diterima di sekolah ini meliputi: umur 18 tahun, kesehatan yang baik, kemampuan untuk membaca dan menulis Arab dan latin, pengetahuan membaca al-Qur’an, bersumpah bahwa kalau akan menjadi guru mereka akan menjadi guru atau propagandis “Persatuan Islam”, dan akan berikhtiar mendirikan cabang-cabang Persatuan Islam. Mereka juga harus menjaga disiplin yang ketat dan wajib mengerjakan perintah agama, menjauhkan segala larangan, menjauhi kegiatan merokok di dalam pesantren, bersih badan dan pakaian, menjaga kesopanan dan adab-adab Islam, menjaga kesopanan adat yang tidak dilarang oleh agama serta selalu menjaga syari’at Islam.[42]
Pesantren ini kemudian dipindahkan ke Bangil, Jawa Timur. Hasan juga pindah kesana dengan membawa 25 dari 540 siswa dari Bandung. Setelah pesantren dibuka di Bangil, maka murid-muridnya bertambah dengan beberapa orang yang datang dari berbagai daerah kepulauan Indonesia. Pada bulan Februari 1941 dibuka pesantren bagian perempuan dengan 12 murid, semuanya dari luar Bangil, dan kedua pesantren itu berjalan dengan baik.[43]
Pada bulan Desember 1941 terjadi Perang Dunia yang kedua. Sebagian murid-murid pulang  ke kampong masing-masing. Ketika tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, di pesantren tinggal beberapa orang anak laki-laki yang tak dapat pulang. Dalam masa pendudukan Jepang pesantren tersebut terpaksa ditutup. Tetapi pada 1 Muharram 1371(3 Oktober 1951) dibuka kembali dengan resmi, sesudah berhenti beberapa tahun lamanya.[44] Sampai sekarang masih tetap ramai di kunjungi para santri dari berbagai daerah di Indonesia untuk menuntut ilmu pengetahuan agama dan umum.
REFLEKSI
Kita telah ketahui bahwa banyak terdapat organisasi-organisasi islam di Indonesia, misalnya seperti yang telah di paparankan di atas. Ada Muhammadiyah, NU, Persis dan lain sebagainya. Dan fakta di masyarakat kita sekarang adalah mereka saling mengklaim atau merasa organisasi merekalah yang paling benar sedangkan yang lain itu salah.
Namun, setelah kita menelaah beberapa organisasi, ternyata organisasi-oraganisasi tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menyebarkan ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yaitu agama Islam. Oleh karena itu, kita tidak boleh saling menyalahkan satu sama lain karena pada dasarnya tujuan dari semua organisasi tersebut sama dan apabila terdapat perbedaan, hal itu disebabkan oleh pendekatan yang dilakukan oleh masing-masing organisasi.








DAFTAR PUSTAKA

Anam, Chaerul. Pertumbuhan dan Perkembangan NU. Surabaya: PT Duta Aksara Mulia, 2010.
Kusuma, Ida Bagus Putu Wijaya. NU lomnbok (1953-1984). Lombok Barat: Pustaka Lombok, 2010.
Mansur dan Mahmud Junaidi. Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Departemen Agama RI, 2005.
Mansyur, Ahmad Taqiuddin. NU Lombok , Sejarah Terbentuknya Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat. Lombok Barat: Pustaka Lombok, 2008.
Nata, Abuddin. Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.
Rukiati, Enung K dan Fenti Hikmawati. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung: Pustaka Setia, 2006.
Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: 1957.
Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2010.



.





[1] Enung K Rukiati dan Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm. 81.
[2] Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 171.
[3] Abuddin Nata. Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 100.
[4] Zuhairini, dkk. hlm. Sejarah Pendidikan…, hlm. 172.
[5] Abuddin Nata. Tokoh-tokoh…, hlm. 100.
[6] Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan…, hlm. 172-173.
[7] Ibid., hlm. 174.
[8] Ibid., hlm. 175.
[9] Ibid., hlm. 175-176.
[10] Abudin Nata, Tokoh-tokoh…, hlm. 102-103.
[11] Enung K Rukiati dan Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan…, hal. 83-84
[12] Abudin Nata, Tokoh-tokoh…, hal. 104-105.
[13] Ibid.
[14] Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan…, hlm. 175.
[15] Enung K Rukiati dan Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan…., hlm. 84.
[16] Ibid, hal. 84-86.
[17] Ibid.
[18] Ibid.,
[19] Enung K Rukiati dan Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan…., hlm. 87.
[20] Chaerul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, (Surabaya: PT Duta Aksara Mulia, 2010), hlm. 3-4.
[21] Ibid., hlm. 77.
[22] Ibid., hlm. 88.
[23] Ibid., hlm. 96-97.
[24] Ibid., hlm. 20-21.
[25] Ibid., hlm. 24.
[26] Ibid., hlm. 30.
[27] Ida Bagus Putu Wijaya Kusuma, NU lomnbok (1953-1984), (Lombok Barat: Pustaka Lombok, 2010), hlm. 19-20.
[28] Ibid. hlm. 20.
[29] Ibid. hlm. 22-23.
[30] Ibid. hlm. 23-24.
[31] Ahmad Taqiuddin Mansyur, NU Lombok,  Sejarah Terbentuknya Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat, (Lombok Barat: Pustaka Lombok, 2008), hlm. 4.
[32] Ida Bagus Putu Wijaya Kusuma. NU…, hlm. 3.
[33] Ibid. hlm. 99.
[34] Ibid. hlm 104.
[35] Ibid. hlm. 108-109.
[36] Ibid. hlm. 109.
[37] Mansur dan Mahfud Junaidi, Rekonstruksi Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2005), hlm. 70.
[38] Ibid., hlm. 71.
[39] Zuhairini, Sejarah Pendidikan…, hlm. 190.
[40] Ibid., hlm. 191.
[41] Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: 1957), hlm. 297.
[43] Mansur dan Mahfud Junaidi, Rekonstruksi Sejarah…, hlm. 73.
[44] Zuhairini, Sejarah Pendidikan…, hlm. 192.